Paragraf

 1. Pengertian

Istilah paragraf, alinea ataupun paragraf (dari bahasa Yunani paragraphos, “menulis di samping” atau “tertulis di samping“)  sudah sering kita dengar bahkan pernah digunakan dalam percakapan maupun dalam praktik. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan Purwadarminta tertera penjelasan bahwa alinea sama dengan baris atau ganti baris. Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa paragraf merupakan seperangkat kalimat berkaitan antara satu dengan lainnya. Kalimat-kalimat tersebut disusun menurut aturan tertentu sehingga makna yang dikandungnya dapat dibatasi, dikembangkan, dan diperjelas.   Dalam pengertian yang lain, paragraf disebutkan sebagai suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau karya ilmiah yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru.   Paragraf dikenal juga dengan nama lain alinea. Paragraf dibuat dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam (geser ke sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi. Demikian pula dengan paragraf berikutnya mengikuti penyajian seperti paragraf pertama.

Menurut pengamatan penulis, diketahui beberapa ciri paragraf, yaitu (1) setiap paragraf mengandung makna, pesan, pikiran, atau ide pokok yang relevan dengan ide pokok keseluruhan bacaan, (2) umumnya paragraf dibangun oleh sejumlah kalimat, (3) paragraf adalah satu kesatuan ekspresi pikiran, (4) paragraf ialah suatu kesatuan yang koheren dan padat, (5) kalimat-kalimat paragraf tersusun secara logis-sistematis.

  1. Unsur-Unsur Paragraf

Paragraf dibentuk oleh dua unsur, yaitu:

  1. Gagasan utama/kalimat utama

Gagasan utama adalah gagasan atau kalimat yang berisi ide pokok/masalah atau kesimpulan sebuah paragraf. Gagasan utama dapat terletak di awal paragraf ataupun berada pada akhir kalimat. Kalimat utama biasanya berisi suatu pernyataan yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut oleh kalimat lainnya dalam bentuk kalimat penjelas. Ada pula paragraf yang gagasan utamanya ada di awal dan di akhir paragraf, tetapi bukan berarti paragraf itu memiliki dua gagasan utama.

  1. Gagasan Penjelas/Kalimat Penjelas

Gagasan penjelas adalah gagasan yang menjelaskan gagasan utama.  Dalam paragraf, jumlah kalimat penjelas lebih banyak dibandingkan kalimat utama.

Contoh:

Indonesia negara yang sering terkena bencana. Tahun 2004 lalu Aceh dilanda tsutami. Bahkan di tahun 2009, rentetan bencana terjadi di negeri tercinta ini. Di Bulan ramadan 2009, Situ Gintung Jebol. Tak lama kemudian Tasikmalaya diterjang gempa yang mengakibatkan ribuan korban. Sebulan kemudian, di Sumatera Barat kembali diguncang gempa dengan kekuatan 7,6 skala richter.

Dari contoh paragraf di atas dapat ditentukan bahwa gagasan utama paragraf tersebut adalah Indonesia merupakan negara yang sering terkena bencana.

  1. Kerangka Paragraf

Penyusunan paragraf harus:

  • Dimulai dengan kalimat topik yang menyatakan gagasan utama paragraf.
  • Memberikan detil pendukung untuk mendukung gagasan utama.
  • Ditutup dengan kalimat penutup yang menyatakan kembali gagasan utama.
  1. Syarat Penyusunan Paragraf

Paragraf haruslah memiliki kesatuan/kepaduan bentuk dan kesatuan makna.

  1. Kepaduan Bentuk

Kepaduan bentuk disebut juga kohesi. Kohesi berkaitan dengan penggunaan kata untuk menyusun paragraf tersebut. Sebuah paragraf terkadang padu secara makna, tetapi tidak didukung dengan kepaduan bentuk.

Kepaduan bentuk tersebut didukung oleh:

    1. hubungan pergantian, ditandai dengan penggunaan kata saya, kami, kita, Anda, kalian, mereka, engkau, dia.
    2. hubungan penunjukan, ditandai dengan penggunaan kata ini, itu, tersebut, tadi, berikut, selanjutnya, dll.
    3. hubungan pelepasan, ditandai dengan penggunaan kata sebagian, separuh, seluruhnya, semuanya.
    4. hubungan perangkaian, ditandai dengan penggunaan kata dan, lalu, kemudian, selanjutnya, akan tetapi, akhirnya, sementara itu, selain itu, namun demikian, kesimpulannya.
    5. hubungan leksikal, ditandai dengan pengulangan kata, penggunaan hubungan makna.
  1. Kapaduan Makna

Kepaduan makna juga disebut koheren. Selain susunan bentuknya sudah baik, kepaduan makna juga sangat diperlukan dalam hubungan antarkalimat penyusun sebuah paragraf. Kalimat-kalimat tersebut harus mendukung satu gagasan utama yang telah ditentukan. Kalimat-kalimat tersebut memiliki hubungan timbal balik yang saling mendukung gagasan utama.

  1. Jenis Paragraf
  1. Berdasarkan letak gagasan utamanya
    1. Paragraf Deduktif

Paragraf deduktif adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak di awal paragraf. Gagasan utama paragraf deduktif dinyatakan dengan kalimat utama yang terletak di awal.

Contoh:

Banyak orang membaca dengan tujuan ingin mendapatkan informasi dari bacaan tersebut. Informasi yang ingin diperoleh mungkin sudah didengar, tetapi ingin lebih meyakinkan lagi dengan membaca langsung. Membaca bacaan berisi informasi yang pernah dibaca sebelumnya dan ingin mengingat lagi informasi itu lebih baik. Apalagi membaca suatu bacaan yang berisi informasi baru, tentu akan dicermati dengan baik atau mungkin akan mencatat informasi tersebut.

  1. Paragraf Induktif

Paragraf induktif adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak di akhir paragraf.   Paragraf induktif adalah paragraf yang dimulai dengan menyebutkan peristiwa-peristiwa yang khusus untuk menuju kepada kesimpulan umum yang mencakup semua peristiwa khusus di atas.

Mula-mula paragraf tersebut berisi pernyataan-pernyataan khusus dan diakhiri dengan sebuah kesimpulan umum.

Ciri-ciri Paragraf Induktif

  • Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus
  • Kemudian, menarik kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus.
  • Kesimpulan terdapat di akhir paragraf.
  • Gagasan Utama terdapat pada kalimat utama
  • Kalimat penjelas terletak sebelum kalimat utama, yakni yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa khusus

Contoh:

Setiap siswa dilarang untuk membawa telepon genggam. Jika mereka kedapatan membawanya, telepon genggam tersebut akan disimpan di sekolah selama dua bulan. Bagi siswa yang laki-laki diwajibkan untuk memendekkan rambut mereka. Sedangkan siswa perempuan diwajibkan menggunakan rok panjang dan jilbab bagi muslim. Tak lupa pula lambang lokasi, papan nama, serta bentuk celana senantiasa harus diperhatikan oleh siswa. Demikianlah kedisiplinan yang diterapkan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Pallangga, Gowa, Sul sel.

Dalam pengembangannya, paragraf induktif memiliki beberapa bagian, yaitu:

  • Generalisasi, yaitu perumusan kesimpulan umum berdasarkan data/kejadian-kejadian yang bersifat khusus. Generalisasi juga dapat diartikan penalaran induktif dengan cara menarik kesimpulan secara umum berdasarkan sejumlah data. Jumlah data atau peristiwa khusus yang dikemukakan harus cukup dan dapat mewakili

Contoh:

Setelah karangan anak-anak kelas 3 diperiksa, ternyata Ali, Toto, Alex, dan Burhan mendapat nilai 8. Anak-anak yang lain mendapat 7. Hanya Maman yang 6, dan tidak seorang pun mendapat nilai kurang. Boleh dikatakan, anak kelas 3 cukup pandai mengarang.

  • Analogi, yaitu pengambilan kesimpulan dengan asumsi bahwa jika dua atau beberapa hal memiliki banyak kesamaan, maka aspek lain pun memiliki kesamaan.

Contoh:

Sifat manusia ibarat padi yang terhampar di sawah yang luas. Ketika manusia itu meraih kepandaian, kebesaran, dan kekayaan, sifatnya akan menjadi rendah hati dan dermawan. Begitu pula dengan padi yang semakin berisi, ia akan semakin merunduk. Apabila padi itu kosong, ia akan berdiri tegak. Demikian pula dengan manusia yang tidak berilmu dan tidak berperasaan, ia akan sombong dan garang. Oleh karena itu, kita sebagai manusia apabila diberi kepandaian dan kelebihan, bersikaplah seperti padi yang selalu merunduk.

  • Sebab-akibat, yaitu dimulai dengan fakta-fakta yang menjadi sebab menuju kesimpulan yang menjadi akibat.

Contoh:

Kemarau tahun ini cukup panjang. Sebelumnya, pohon-pohon di hutan sebagi penyerap air banyak yang ditebang. Di samping itu, irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggarap lahan pertaniannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan panen di desa ini selalu gagal.

  • Akibat-sebab, yaitu dimulai pada fakta-fakta yang menjadi akibat lalu kita analisis untuk mencari sebabnya.

Contoh:

Hasil panen para petani di Desa Cikaret hampir setiap musim tidak memuaskan. Banyak tanaman yang mati sebelum berbuah karena diserang hama. Banyak pula tanaman yang tidak berhasil tumbuh dengan baik. Bukan itu saja, pengairan pun tidak berjalan dengan lancar dan penataan letak tanaman tidak sesuai dengan aturannya. Semua itu merupakan akibat dari kurangnya pengetahuan para petani dalam pengolahan pertanian.

  1. Paragraf Campuran

Paragraf campuran adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak di awal dan di akhir paragraf. Dalam paragraf ini terdapat dua kalimat utama, tetapi hanya satu gagasan utama. Kalimat pada bagian akhir hanya berperan untuk mempertegas kalimat utama yang terletak di awal paragraf.

            Contoh:

Presiden terpilih, Susilo Bambang Yudhoyono, telah memanggil beberapa orang yang akan dicalonkan untuk mengisi kabinet Indonesia Bersatu. Pemanggilan tersebut dilakukan secara maraton dari pagi sampai malam. Ada beberapa nama lama yang tetap dipanggil, namun nama-nama yang baru juga menghiasi pemanggilan tersebut. Setelah mereka diberikan pertanyaan oleh presiden, mereka diminta menandatangani Kontrak Kinerja dan Pakta Integritas yang harus ditandatangani di atas materai. Begitulah proses persiapan pembentukan pemerintahan baru oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

  1. Berdasarkan Tujuannya

Berdasarkan tujuannya, paragraf dibedakan atas:

  1. Paragraf Deskripsi

Keraf (1980:93) berpendapat, “Karangan deskripsi adalah sebuah karangan yang bertalian dengan usaha-usaha para pengarang untuk memberikan perincian dari objek yang sedang dibicarakan.” Suparni menyatakan bahwa karangan deskripsi adalah jenis karangan yang didalamnya melukiskan suatu situasi atau keadaan dengan kata-kata sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, dan merasakan sendiri objek yang dilukiskan dalam deskripsi itu (1986:92). Dapat disimpulkan bahwa paragraf deskripsi adalah paragraf yang menceritakan suatu objek/kejadian/peristiwa  secara detil sehingga pembaca atau pendengar seolah-olah melihat, merasa, atau mendengarkan apa yang dituliskan atau diceritakan.

Keraf (1980:104) mengatakan bahwa dalam menyusun karangan deskripsi ada tiga pendekatan yaitu: “(a) pendekatan yang realitas, (b) pendekatan yang impresionistis, dan (c) pendekatan sikap penulis.”
Agar mendapat gambaran yang jelas, pendekatan-pendekatan tersebut diuraikan satu-persatu di bawah ini.

  1. Pendekatan realistis

Dalam pendekatan yang realistis ini, penulis berusaha agar deskripsi yang dibuat terhadap objek yang tengah diminatinya itu, harus dapat dilukiskan seobjektif mungkin sesuai dengan kenyataan yang dilihatnya.

  1. Pendekatan impresionistis
    Pendekatan yang impresionistis adalah suatu pendekatan yang berusaha menggambarkan sesuatu secara subjektif atau sesuai dengan interpretasi pengarang.
  2. Pendekatan menurut sikap penulis
    Cara pendekatan ini dapat digunakan bagaimana sikap penulis atau pengarang terhadap objek yang dideskripsikan tersebut. Misalnya: acuh tak acuh, bersungguh-sungguh, dan cermat.
    Paragraf ini menggunakan kata-kata secara jelas dan terperinci. Paragraf deskripsi dengan sudut pandang subjektif dilakukan dengan melibatkan kesan atau perasaan pribadi terhadap objek seperti rasa simpati, kagum, heran, sedih, haru, benci, dan nada keprihatinan.

Kata penghubung antarkalimat yang harus diperhatikan adalah kata hubung koordinatif (dan, serta, atau), kata ganti, kata penunjuk dan pengulangan.

Contoh:

Malam ini keadaan indah sekali. Bulan purnama bersinar dengan terang melewati celah-celah dedaunan hingga menyentuh mukaku ini. Bintang pun menambah keindahan malam dengan kerlipannya. Udara dingin menusuk sumsum. Sesekali terdengar suara jangkrik mengusik sepinya malam.

  1. Paragraf Narasi

Paragraf narasi adalah paragraf yang berisi rangkaian peristiwa yang runtut sehingga menghasilkan alur cerita. Paragraf narasi ini bertujuan untuk menceritakan suatu peristiwa atau kejadian sehingga pembaca seolah mengalaminya sendiri. Paragraf ini sebagin besar berisi imajinasi. Jenis paragraf ini digunakan untuk menjelaskan suatu rangkaian peristiwa (kisah) atau proses. Urutan peristiwa atau proses dapat dipahami dengan mudah jika gagasan ditulis secara berurutan. Untuk menunjukkan urutan dan hubungan antarperistiwa atau proses digunakan kata hubung antarkalimat; misalnya pertama, kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, selanjutnya, sesudah itu, dan berikutnya.

Contoh:

Betapa terkejutnya Bagong menyaksikan peristiwa itu. Ditariknya tangan adiknya dengan keras untuk segera menjauh dari semburan itu. Busa menyala menyembur dari dalam tanah serta memiliki bau tak sedap hingga memekakkan hidung kakak beradik tersebut.

  1. Paragraf Eksposisi

Paragraf eksposisi adalah paragraf yang berisi penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi. Informasi yang disampaikan harus jelas dan detail. Langkah-langkah tentang sesuatu termasuk dalam kategori paragraf eksposisi.

Contoh:

Tingkat kemiskinan di Indonesia semakin menurun. Pada tahun 2007, kemiskinan mencapai 30% dari jumlah penduduk. Tahun 2008, jumlah tersebut menurun menjadi 25%. Selanjutnya, pada tahun 2009 ini diperkirakan bahwa tingkat kemiskinan masyarakat Indonesia turun hingga ke level 13%.

  1. Paragraf Argumentasi

Paragraf argumentasi adalah paragraf yang memaparkan sesuatu dengan menghadirkan fakta-fakta yang bertujuan untuk meyakinkan seseorang terhadap apa yang dipaparkan.

Contoh:

Selokan-selokan yang ada di depan rumah harus dibersihkan dari genangan air dan rerumputan. Jika air di selokan tidak mengalir dan rerumputan pun tumbuh dengan subur, maka hal itu akan menjadikan nyamuk berkembang biak dengan cepat.

  1. Paragraf Persuasi

Paragraf persuasi adalah paragraf yang bertujuan untuk memengaruhi, membujuk, atau mengajak pembaca/pendengar untuk berbuat  sesuai dengan keinginan pembicara atau penulis.

Contoh:

Penggunaan sampo secara rutin akan membuat rambut Anda menjadi sehat. Kesehatan itu akan semakin menambah kemilau dan daya tarik rambut Anda. Bayangkan jika sampo itu tidak senantiasa Anda gunakan maka rambut akan kering, susah diatur, serta kulit kepala akan gatal-gatal. Olehnya itu, gunakanlah selalu sampo setiap Anda mandi.

  1. Berdasarkan pola pengembangannya
    1. Pola umum khusus

Pola ini dapat berupa pola umum-khusus atau sebaliknya, yaitu khusus-umum. Pola umum-khusus diawali dengan sebuah pernyataan umum yang kemudian dilanjutkan dengan kalimat penjelas yang berupa kalimat-kalimat khusus.

Contoh:

Memiliki kendaraan sendiri ternyata banyak untungnya. Kita dapat bepergian kapan saja kita mau. Biaya yang dikeluarkan pun akan semakin hemat dibandingkan harus naik mobil penumpang. Waktu yang kita gunakan pun dapat diatur sedemikian rupa sehingga semua yang kita rencanakan dapat terlaksana dengan baik.

B. Pola definisi luas

Paragraf yang berpola definisi luas dimaksudkan bahwa dalam pengembangan paragraf tersebut menjelaskan tentang sebuah kata ataupun sebuah objek yang telah disebutkan terlebih dahulu.

Contoh:

Pemilu adalah sebuah proses demokrasi yang dianggap paling baik. Melalui pemilihan umum ini, rakyat dengan sendirinya dapat memilih dan menentukan pemimpinnya mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, sampai ke tingkat nasional. Pemilu juga diharapkan mampu menjadikan pemimpin semakin bertanggung jawab terhadap rakyat yang telah memilihnya.

C. Pola sebab akibat

Pola paragraf sebab akibat ditandai dengan kalimat utama yang berupa sebab. Kalimat penjelasnya adalah menghadirkan akibat-akibat yang ditimbulkan dari sebab tersebut. Hal ini dapat terjadi sebaliknya, yaitu kalimat utama diisi oleh akibat kemudian dilanjutkan dengan kalimat sebab sebagai rincian atas akibat yang telah terjadi.

Contoh:

Beberapa bulan akhir-akhir ini, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah semakin berkurang. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor. Pertama, pergantian unsur pimpinan KPK yang dinilai sarat dengan kepentingan politik. Kedua, penangkapan aktivis antikorupsi Indonesia dengan mengatasnamakan pencemaran nama baik sangat tidak berdasar. Ketiga, partai-partai besar yang mendapat legitimasi dari rakyat telah membentuk koalisi besar sehingga pemerintah akan menetapkan sebuah kebijakan semaunya.

D. Pola proses

Paragraf dengan pola pengembangan proses merupakan sebuah paragraph yang menerangkan sesuatu dengan memberikan perincian-perincian secara berurut sehingga apa yang disampaikan dapat dipahami dengan baik. Langkah-langkah dalam penyusunan paragraph yang berpola proses, yaitu:

  • harus mengetahui perincian-perincian secara menyeluruh
  • membagi perincian tersebut dengan urutan yang baik
  • menjelaskan tiap urutan secara detil

Contoh:

Cara menamam anggrek dengan baik akan menghasilkan kualitas bunga anggrek yang baik pula. Sebelum tanaman ditempelkan, kita harus menyiapkan tempat menempelnya yang memiliki tekstur lembut dan tidak rata. Hal itu bisa  didapatkan misalnya pada sabuk kelapa. Setelah itu, anggrek tersebut ditempelkan pada sabuk tersebut dan diikat. Ikatan pada sabuk tidak boleh terlalu erat. Sebelum angger tumbuh dengan baik, janganlah disimpan pada tempat yang terkena matahari secara tetap dari pagi hingga petang.

E. Pola pertentangan dan perbandingan

Pola perbandingan digunakan untuk menyajikan sebuah paragraph yang berdasarkan atas persamaan dan perbedaan suatu peristiwa yang dituliskan. Pola perbandingan digunakan dengan melihat perbedaan dalam sebuah peristiwa dengan peristiwa yang lain. Hal ini dilakukan untuk lebih memperjelas analisis yang diberikan.

Contoh:

Komputer dan laptop merupakan perkembangan teknologi informasi yang baik. Komputer banyak digunakan sebelum laptop marak di kalangan masyarakat. Fungsi dari kedua jenis teknologi ini sama, yaitu digunakan untuk menyimpan, mengetik, dan menganalisis data serta berbagai kepentingan lain. Laptop dihadirkan dengan tujuan semakin mempermudah penggunaannya. Jika komputer tidak bisa dibawa ke mana-mana, laptop berlaku sebaliknya. Laptop yang dikenal juga dengan istilah komputer jinjing dapat dibawa ke mana-mana sehingga  bisa digunakan kapan dan di mana saja.

F. Pola analisis

Pola analisis digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang sifatnya umum ke dalam perincian-perincian yang logis. Kalimat utama yang terletak di awal paragraph berperan sebagai bagian yang dianalisis, sedangkan bagian selanjutnya berfungsi untuk menganalisis.

Contoh:

Masalah perekonomian Indonesia saat ini dihadang dengan keadaan yang kritis. Hal itu didasarkan pada beberapa faktor. Pertama, ekonomi global semakin tidak menentu sehingga mengakibatkan perekonomian dalam negeri juga terombang ambing. Kedua, ekonomi kerakyatan yang semakin terpuruk sehingga masyarakat semakin menjadi korban korporasi ekonomi. Ketiga, munculnya berbagai lembaga keuangan yang bermasalah.

G. Pola ilustrasi/contoh

Dalam karangan yang luas/terlalu umum, ilustrasi dibutuhkan untuk memperjelas maksud dalam tulisan tersebut. Ilustrasi tidak digunakan untuk memberikan kebenaran terhadap pendapat, tetapi hanya untuk memperjelas.

Contoh:

Kehidupan saat ini semakin menuntut keprofesionalan. Jika seseorang tidak mampu untuk profesional, maka dia akan tersingkir dari dunia kerja. Seseorang harus bekerja sesuai dengan keahlian masing-masing serta bekerja secara maksimal pada pos yang merupakan tanggung jawabnya. Kedisiplinan juga menjadi bagian utama dalam dunia profesioanal. Artinya, selain seseorang ahli pada bidangnya juga harus ditunjang dengan tanggung jawab serta disiplin yang tinggi dalam melaksnakan tugasnya.

H. Pola seleksi

Dalam pola seleksi, penggambaran terhadap objek tidak dilakukan secara menyeluruh, melainkan dipilah bagian per bagian. Pemilihan harus didasarkan pada pertimbangan tertentu, misalnya karena fungsi/peran atau bentuknya.

Contoh:

Setelah dia menerima SK sebagai CPNS, dia pun mengubah penampilannya. Gaya berpakaian adalah hal yang paling banyak berubah. Pakaian levis sedikit demi sedikit telah ditinggalkannya. Dalam keseharian dia lebih terlihat rapi dengan pakaian dinasnya. Kalaupun bukan, maka dia menggunakan pakaian kemeja yang dipadu dengan celana kain yang rapi.

I. Pola titik pandang

Pola titik pandang dimaksudkan bagaimana pengarang menempatkan dirinya dalam cerita. Titik pandang dilihat dari posisi penceritaan, bukan bagaimana memandang sebuah benda. Seseorang yang memosisikan dirinya sebagai titik pandang orang pertama maka dia harus tetap memosisikan dirinya seperti itu sampai akhir cerita. Jika dia berpindah titik pandang, maka itu akan mengacaukan kisah dalam cerita.

Contoh:

Mereka berkumpul di sebuah pos ronda. Malam itu gerimis rinai mengiringi permainan domino mereka. Di depan pos, Aking sibuk dengan api unggun sambil membalik-balik ubi kayu yang dibakarnya sejak tadi. Sementara empat orang di atas pos terlihat serius sambil menggumam untuk mengatur permainan domino mereka.

J. Pola dramatis

Pola dramatis berbeda dengan pola titik pandang. Dalam pola dramatis, cerita tidak disampaikan secara langsung melainkan melalui dialog antartokoh.

Contoh:

Rahmat terpaku menyakiskan gurunya menjelaskan dengan serius. Rahmat memerhatikan kata demi kata yang keluar dari bibir sang guru yang manis. “Rahmat, coba ulang apa yang saya jelaskan!” perintah guru dengan suara lantang. Tanpa basa basi Rahmat pun mengulang secara detil apa yang telah dijelaskan oleh gurunya. “Hore…hore,..Rahmat memang pintar,” teriakan teman-temannya menggema dalam ruangan.

 

This entry was posted in BAHASA & SASTRA INDONESIA and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.