TEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN BIDANG ENERGI

Teknologi ramah lingkungan dapat diterapkan pada bidang energi sebagai upaya mencari sumber energi alternatif untuk masa depan. Berikut ini adalah contoh penerapannya.

1. Biofuel

Biofuel adalah jenis bahan bakar alternatif yang berasal dari bahan-bahan organik, biasanya dari tanaman. Ada dua jenis biofuel, yaitu: bioetanol dan biodiesel.

a. Bioetanol

Bioetanol adalah jenis alkohol yang dapat dibuat dengan fermentasi karbohidrat. Beberapa tumbuhan yang mengandung karbohidrat tinggi seperti jagung, sorgum, dan singkong biasanya digunakan untuk menghasilkan bioetanol.

b. Biodiesel

Berbeda dengan bioetanol, bahan baku pembuatan biodiesel berasal dari lemak nabati, misalnya dari minyak kelapa sawit atau minyak jarak pagar. Di Indonesia, biodiesel sudah dikembangkan dan diproduksi sebagai bahan kendaraan yang disebut dengan biosolar.

2. Biogas

Biogas merupakan jenis bahan bakar alternatif yang diperoleh dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri anaerob. Bahan-bahan organik ini berupa sampah tumbuhan, kotoran manusia atau hewan. Saat difermentasi, sampah atau kotoran tersebut akan mengeluarkan gas. Gas itulah yang disebut dengan biogas. Biogas biasanya digunakan untuk menyalakan listrik atau kompor.

Biogas ini tidak hanya bermanfaat karena mampu menghasilkan sumber energi alternatif, tetapi juga dapat mejaga kebersihan lingkungan. Limbah organik dari hewan ternak dan industry pembuatan makanan tidak dibuang begitu saja, tetapi dijadikan biogas.

3. Sel Surya (Solar Cell)

Sel surya atau photovoltaics cells adalah semikonduktor yang mengubah energi cahaya ke enegi listrik melalui proses fotoelektrik. Pada umumnya sel surya memiliki ukuran tipis (hampir sama dengan selembar kertas). Sel surya terbuat dari silikon (Si) yang dimurnikan atau polikristalin silikon dengan beberapa logam yang mampu menghasilkan listrik.

Gabungan dari beberapa sel surya pada satu panel dikenal sebagai Panel Surya (Solar Panel). Panel surya memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:

  • Tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca
  • Mampu menghasilkan energi cukup besar
  • Mudah dipasang atau dipindahkan atau dikembangkan.

Meskipun memiliki banyak keunggulan, panel surya juga memiliki beberapa kekurangan, diantaranya:

  • Membutuhkan sistem penyimpanan listrik dan komponen pada panel surya ini termasuk jenis bahan yang berbahaya.
  • Bahan tersebut harus didaur ulang dengan benar setelah pemakaian selama 20 – 25 tahun.
  • Biaya produksi panel surya masih tinggi (harganya mahal).
  1. Pembangkit Listrik Tenaga Air (Hydropower)

Tenaga air atau hydropower menggunakan energi gerak (energi kinetik) dari aliran air untuk menghasilkan listrik. Cara kerja PLTA pada dasarnya untuk mengubah energi air menjadi energi listrik. Air menjadi sarana potensial yang bisa digunakan untuk menggerakkan turbin, lalu air yang ada di bendungan akan turun ke dalam lubang untuk memutar turbin. Perputaran turbin tersebut akan menghasilkan energi mekanik yang dikonversi melalui generator menjadi energi listrik.

Setelah itu, cara kerja PLTA berikutnya akan diteruskan ke power suplay listrik dan akan disambungkan oleh kabel. Umumnya, kabel tersebut dibentangkan dan ditahan oleh sutet, lalu dibagi ke daerah atau diteruskan ke rumah penduduk. Selain itu, air yang sudah melewati turbin akan disalurkan ke sungai agar bisa dimanfaatkan oleh warga sebagai sumber kehidupan.

Hydropower merupakan sumber energi terbarukan pertama yang digunakan untuk menghasilkan listrik. Teknologi ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain:

  • Dapat menghasilkan energi yang besar
  • Membutuhkan biaya yang sedkiti
  • Menghasilkan sedikit emisi CO2.

Selain itu, teknologi hydropower ini memiliki beberapa kelemahan, antara lain:

  • Banyaknya lahan yang beralih fungsi dan pengalihan tempat tinggal penduduk.
  • Menyumbang emisi metana (CH4) yang dilepaskan di udara akibat terurainya organisme yang mati dalam air.
  • Mengganggu ekosistem air di daerah muara.
  1. Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut Air Laut dan Ombak (Ocean Power)

Energi lsitrik juga dapat dihasilkan dari energi pasang surut air laut dan ombak. Di beberapa pantai, level ketinggian air dapat naik atau turun hingga 6 meter bahkan lebih. Bendungan dibangun untuk melintasi bibir pantai untuk memgambil energi pada aliran air laut untuk digunakan sebagai hydropower.

Saat ini masih sedikit negara yang menerapkan teknologi ini. Pembangkir listrik tersebut berada di kota La Rance, Prancis. Hal ini disebabkan teknologi ini membutuhkan biaya yang sangat besar, alat mudah rusak akibat korosi air laut, badai, dan di dunia ini hanya sedikit daerah yang cocok untuk dibangun teknologi ini.

6. Pembangkit Listrik Tenaga Angin (Wind Power)

Ada dua pembangkit listrik tenaga angin yang saat ini dikembangkan, yaitu pembangkit listrik tenaga angin yang dibangun di daratan dan yang dibangun di pantai.

Pembangkit listrik yang dibangun di daratan harus terletak yang jauh dari pemukiman dan sedikit populasi penduduk. Meskipun pembangkit yang dibangun di pantai membutuhkan biaya yang lebih besar, tetapi pembangkit ini memiliki potensi yang besar. Di pantai, angin akan bergerak lebih cepat, lebih kuat, dan lebih stabil daripada angin yang bergerak di daratan.

7. Geotermal

Energi geotermal merupakan panas yang tersimpan dalam tanah, lapisan dasar bumi, dan cairan dalam kerak bumi. Energi yang tersimpan ini dapat digunakan untuk memanaskan dan mendinginkan bangunan serta menghasilkan listrik. Ilmuwan memperkirakan bahwa hanya denga menggunakan 1% dari panans yang tersimpan sedalam 5 km dalam kerak bumi, akan menghasilkan energi 250 kali lebih banyak dari minyak dan gas alam yang tersimpan di seluruh lapisan bumi.

8. Fuel Cell dan Hydrogen Power

Matahari menghasilkan energi yang menjaga keberlangsungan hidup di bumi melalui penggabungan inti (fusi) atom-atom hidrogen. Hidrogen merupakan unsur kimia paling sederhana dan paling banyak di alam semesta. Hidrogen yang banyak di alam semesta bukanlah hidrogen bebas yang dapat langsung dimanfaatkan sebagai bahan bakar, tetapi hidrogen tersebut berada dalam bentuk senyawa, misalnya hidrogen pada air (H2O). Oleh karena itu, para ilmuwan menyatakan bahwa gas hidrogen (H2) akan menjadi bahan bakar di masa depan.

 

This entry was posted in IPA, KELAS 9, MATERI, SMP. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.